Jumat, 10 April 2009

Triharyo Soesilo (TK 77)

Perlu Kreatif

Mengeluarkan Kiat

Menghadapi Krisis


Paket stimulus yang dikucurkan pemerintah dalam menghadapi krisis financial global lebih ditekankan bagi rakyat miskin. Sementara program-program nyata untuk membantu dunia usaha dan para pebisnis, belum terlihat dari anggaran yang disediakan oleh pemerintah pada APBN 2009. Para pebisnis dan pengusaha harus bisa bertahan tanpa ada bantuan pemerintah!


Dirjen Anggaran Departemen Keuangan beberapa waktu lalu mengumumkan langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi krisis financial pada 2009. Pemerintah berencana menaikkan gaji pokok pegawai negeri sipil dan juga akan memberikan gaji ke-13. Tidak hanya itu, juga meneruskan subsidi pangan dan pupuk. Oleh karena itu, kantor-kantor pemerintah akan mendapat tugas tambahan, yaitu mendorong pertumbuhan melalui konsumsi masyarakat. Itu sebabnya, biaya-biaya operasional dan pemeliharaan kantor pemerintah “tidak boleh dihemat” Bahkan, bila perlu pemerintah akan mengambil hutang dari luar negeri atau penjualan Surat Berharga Negara (SBN).


Sementara program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat yang telah berjalan pada 2008 akan semakin didorong pada tahun ini. Program tersebut terdiri dari beberapa cluster, yautu cluster satu terdiri Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bernilai sampai akhir November Rp. 12,27 triliun.


Beras untuk warga miskin (raskin), sampai 9 Oktober 2008 telah disalurkan 2.349.396 ton (70,29%) dari pagu sebesar 2.342.500 ton, dan disampaikan kepada 18.775.207 dari Rumah Tangga Sasaran atau sudah 98,3%.


Program Keluarga Harapan (PKH). Sampai dengan Oktober 2008 sedang dilaksanakan uji coba kepada 621 ribu Rumah Tangga Sasaran (RTS) miskin, di 13 provinsi 70 kabupaten/kota yang terdiri 629 kecamatan.


Jaminan Kesehatan Masyarakat (jamkesmas), bagi warga yang telah memiliki fasilitas Jamkesmas sebanyak 71.440.254 orang (96,84%) dari target 73.770.631 orang.


Dana Yankes Rujukan. Disediakan dana sebesar Rp3,6 triliun telah tersalurkan s/d Oktober 2008 sebesar Rp1,259 triliun dan pembayaran utang tahun 2007 sebesar Rp 1,131 triliun, dan sisa anggaran 2008 Rp 1,209 triliun.


Bantuan Operasional Sekolah (BOS), untuk beasiswa murid miskin SD tersalur 65,9% dari target Rp251,485 miliar, SLTP 99,5% (target Rp287,484 miliar), SLTA 56,4% (dari Rp242,275 miliar), SMK 99,9% (target Rp329,169 miliar). Total Depdiknas telah menyalurkan beasiswa 82,6% dari target Rp1,11 triliun.


Cluster II, mulai memberikan kail dengan menyediakan semacam “seed money” untuk memulai usaha (ini bukan hutang), Program Nasional Pembedayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Realisasi s/d Oktober 2008 mencapai 4.768 kecamatan di 36.400 desa dengan total dana Rp7,14 triliun. Sementara target untuk 2009 sebanyak 6.407 kecamatan dengan total dana Rp 9,7 triliun

Cluster III. Hutang Skala Kecil untuk UMKM, Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai Oktober telah disalurkan Rp. 10,9 triliun dari target Rp. 14 triliun pada 2008. Sedangkan target untuk tahun 2009 adalah Rp 22.5 Triliun.


Pemerintah – melalui Dirjen Anggaran menyebutkan iklim investasi belum kondusif dan juga pertumbuhan ekspor masih "wait and see", maka untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah akan mendorong konsumsi masyarakat melalui program-program yang bertujuan untuk meningkatan kesejahteraan rakyat miskin. Pemerintah juga akan terus mengupayakan pembinaan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM).


Menurut Ketua Ikatan Alumni ITB 77, Triharyo “Hengki” Soesilo, disaat-saat krisis seperti ini, pelaku bisnis dan juga masyarakat mengharapkan para pemimpin bangsanya dapat mengambil berbagai inisiatif, agar pengaruh dari krisis finansial bisa diatasi, ataupun minimal dikurangi dampaknya. Nampaknya pemerintah Indonesia akan terus mengandalkan program-program Kesejahteraan Rakyat (Kesra) sebagai pendorong dan stimulus untuk mengatasi krisis kali ini.


Lebih lanjut ditambahkan, bagaimana keterkaitan antara program Kesra yang diluncurkan pemerintah, dengan solusi terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang sedang terjadi di berbagai perusahaan, seperti 12.600 yang akan di-PHK dari industri manufaktur. Bagaimana caranya bila karyawan sebuah perusahaan tiba-tiba mengalami PHK? Apakah ia langsung memulai usaha baru untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR)? Usaha baru apa yang bisa dimulai olehnya? Bagaimana modal awal untuk memulai usaha baru? Siapa yang membina mereka untuk memperkecil resiko kegagalan? “Sebagai pembina puluhan perusahaan kecil (start-up companies), saya tahu persis betapa sulitnya memulai usaha baru di Indonesia,” kata Triharyo yang juga sebagai President Director PT. Rekayasa Industri.


Hengki menambahkan, sebaiknya Pemerintah tidak hanya terbatas pada pelaksanaan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) saja untuk mengatasi krisis finansial kali ini. Juga Pemerintah tidak boleh hanya menangis kalau ada PHK. Dari "feeling" ini rasanya diperlukan program-program transisi, seperti yang dilakukan berbagai negara, misalnya melalui program pembangunan infrastruktur dan lain-lain.


Beberapa waktu lalu. Hengki melakukan penelitian terhadap stimulus package yang telah diusulkan, diluncurkan dan dimulai dilaksanakan di berbagai negara., yaitu:


Amerika serikat akan menerapkan US $ 1 Trillion stimulus package ditujukan untuk membangun jembatan, jalan raya, sekolah, broadband internet, perawatan kesehatan dan program energi efisiensi.


China telah meluncurkan US $ 586 Billion stimulus package yang mencakup pembangunan jalan, rel kereta api, lapangan terbang, jaringan listrik, juga program-program jaringan sosial, seperti kepemilikan tanah, program perumahan dan juga kerusakan lingkungan.


Jepang juga baru saja menginisiasi US $ 276 billion stimulus package yang bentuknya memberikan uang cash langsung, pengurangan pajak untuk kredit kepemilikan rumah, memotong biaya jalan toll dan program-program untuk menciptakan pekerjaan.


Italia juga baru mengusulkan US $ 101 Billion stimulus package yang bertujuan untuk membangun infrastruktur, membantu industri perbankan dan juga diperuntukan kepada masyarakat miskin.


Perancis melaksanakan US $ 32.9 Billion stimulus package untuk membantu industri automobile, industri perumahan, mempercepat proyek infrastruktur, dan memberi bantuan dana kepada perusahaan yang menerima pegawai baru.


Inggris baru saja mengumumkan US $ 30 Billion stimulus package untuk menurunkan VAT (PPN) dari 17.5% ke 15% akan tetapi juga meningkatkan pajak penghasilan bagi orang kaya dari 40% ke 45%.


Jerman telah menyetujui US $ 29 Billion stimulus package untuk mengurangi pajak kendaraan, dan bantuan kredit lunak bagi perusahaan yang sedang mengalami kesulitan.


Taiwan juga baru menyampaikan US $ 14.8 Billion stimulus package untuk pembangunan proyek-proyek infrastruktur.


Peru akan mengeluarkan US $ 13.2 Billion stimulus package untuk membangun perumahan, jalan raya, dan berbagai proyek.


Korea selatan akan membelanjakan US $ 11 Billion stimulus package untuk membangun proyek infrastruktur seperti jalan, sekolah, universitas, rumah sakit, dan juga pengusaha kecil dan menengah akan menerima bantuan.


Australia juga meluncurkan US $ 6.3 Billion stimulus package dimana 87% dari dana tersebut akan langsung dikirimkan kepada para pensiunan di negara tersebut.


India mengusulkan US $ 4 Billion stimulus package untuk menurunkan VAT (PPN), proyek infrastruktur, usaha kecil dan menengah serta industri-industri padat karya yang mengutamakan export seperti textile dan kerajinan tangan.


Malaysia akan mengeluarkan US $ 1.9 Billion stimulus package untuk mendorong investasi


“Inilah saatnya jajaran pemerintah harus kreatif dan mengeluarkan segala kiatnya. Jajaran pemerintah di seluruh dunia telah mengambil berbagai langkah yang relatif cepat. Mudah-mudahan pemerintah Indonesia tidak terlambat. Amien,” katanya mengunci pernyataannya.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar